Lembaga Wirausaha Sosial atau Social Entrepreneur

Topik kita sekarang yakni lembaga wirausaha sosial atau social entrepreneur. Seorang social entrepreneur atau wirausaha sosial biasanya tidak hanya bersifat reaktif terhadap situasi yang terjadi di lingkungannya. Dalam kasus tertentu, mereka bahkan menjadi game changer yang dapat memengaruhi dan membentuk ekosistem di sekeliling mereka menjadi lebih baik atau lebih mendukung untuk mencapai tujuan sosial yang diinginkan.

lembaga wirausaha sosial atau social entrepreneur

Lembaga Wirausaha Sosial atau Social Entrepreneur

Sebagai contoh, saat Dompet Dhuafa berdiri, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) di Indonesia masih bersifat tradisional. ZISWAF umumnya disalurkan melalui masjid, serta pengelolaan dananya tanpa program atau tujuan jangka panjang.

Namun, Erie Sudewo melalu organisasi Dompet Dhuafa (yang didirikannya pada tahun 1994) melakukan sosialisasi inovatif untuk menimbulkan kesadaran masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Muslim) agar menyalurkan dananya melalui organisasi-organisasi pengelola ZISWAF. Dengan demikian, dampak sosial ZISWAF dapat lebih bersifat struktural dan berorientasi jangka panjang.

Untuk lebih meningkatkan solidaritas antara sesama lembaga ZISWAF, Dompet Dhuafa menginisiasi pendirian Forum Zakat (FOZ) pada tahun 1997 bersama 10 lembaga ZISWAF lainnya. Pada tahun 1999, Dompet Dhuafa juga menjadi inisiator pendirian Institut Manajemen Zakat (IMZ) yang berupaya menyiapkan tenaga amil pengelola zakat profesional di seluruh Indonesia.

Secara sistematis, ketiga lembaga tersebut berperan pada tingkat mikro, meso, dan makro karena mulai bisa memengaruhi ekosistem pengelolaan zakat nasional, yaitu melalui peran aktif dalam penggodokan UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Pada tahun 2011 payung hukum pengelolaan zakat diperbarui melalui UU Nomor 23 Tahun 2011 disertai peraturan teknisnya berupa Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014. Kedua payung hukum tersebut dipandang mengandung semangat untuk memonopoli pengelolaan zakat oleh pemerintah melalui BAZNAS, dan memarginalkan Lembaga Amil Zakat (LAZ) bentukan masyarakat sipil.

Oleh karena itu, Forum Zakat mengajukan uji materi (judicial review) terhadap peraturan tersebut. Proses ini merupakan contoh nyata dari aksi para social entrepreneur untuk membentuk ekosistemnya sendiri.

Demikian informasi mengenai lembaga wirausaha sosial atau social entrepreneur, semoga post kali ini mencerahkan kawan-kawan semua. Tolong post ini dibagikan biar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi:

Post A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *