Dukungan Finansial dari Lembaga Swadaya Masyarakat

Kali ini kami akan ulas berkaitan dengan dukungan finansial dari lembaga swadaya masyarakat. Ada beberapa LSM yang mulai berfokus pada social entrepreneurship di Indonesia, baik itu LSM Indonesia maupun LSM internasional. Tiga organisasi yang menurut tim penulis berkontribusi paling signifikan dalam pengembangan isu tersebut adalah Bina Swadaya, Ashoka, dan British Council.

Dukungan Finansial dari Lembaga Swadaya Masyarakat

Dukungan Finansial dari Lembaga Swadaya Masyarakat

Bina Swadaya sepertinya organisasi yang paling konsisten dalam mengaktualisasikan semangat social entrepreneurship di Indonesia, bahkan jauh sebelum istilah ini dikenal di Indonesia. Geliatnya sudah dimulai tahun 1967.

Institusi yang memiliki visi “menjadi lembaga yang diakui kepeloporan dan keunggulan dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat dan kewirausahaan sosial” ini telah melakukan banyak kegiatan pengentasan kemiskinan dengan tidak memosisikan kaum terpinggirkan sebagai objek, melainkan sebagai subjek pemberdayaan. Instrumen utama mereka adalah kegiatan keuangan mikro dan pengembangan selp help group.

Ashoka pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1983. Lembaga yang didirikan pada tahun 1980 oleh Bill Drayton ini memberikan dukungan finansial, profesional, serta jejaring pada sektor bisnis dan sosial. Ashoka membangun landasan bagi dunia kewirausahaan sosial dengan Fellow Ashoka sebagai intinya.

Jika organisasi lain biasanya memberikan dukungan dana bagi organisasi atau institusinya, Ashoka justru menawarkan dukungan dana pribadi bagi agen perubahan (game changer) agar dapat berkonsentrasi memecahkan akar permasalahan di masyarakat. Saat ini Ashoka menawarkan tiga program yakni Ashoka Fellowship, Ashoka Young Changemakers, dan Ashoka Changemakers.

The British Council merupakan LSM Pemerintah Inggris yang konsisten mengembangkan kewirausahaan sosial secara sistematis. Untuk itu, British Council meluncurkan sebuah payung besar pengembangan kewirausahaan sosial secara global dan lokal di Indonesia dengan tajuk “Skills for Social Entrepreneurs”.

Salah satu social entrepreneur yang berhasil tumbuh besar atas bantuan The British Council adalah Klinik Asuransi Sampah yang didirikan oleh dr. Gamal Albinsaid. Klinik tersebut memberikan pelayanan dan asuransi kesehatan dengan pembayaran melalui sampah yang dikumpulkan warga. Atas kerja kerasnya, Gamal berhasil meraih The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Pangeran Charles di Inggris, menyisihkan 511 wirausaha peserta dari 90 negara.

Sekian informasi perihal dukungan finansial dari lembaga swadaya masyarakat, semoga artikel kali ini berguna buat Anda. Tolong artikel ini dibagikan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Post A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *